Translate

Tampilkan postingan dengan label cerpan remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpan remaja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Februari 2014

Just Best Friend

Sepulang sekolah, tidak seperti biasanya. Hari ini begitu terik, panas matahari serasa membakar kulit. Keringat bercucuran, mata sudah tidak fokus memperhatikan jalan yang di lewati. Hari ini sepertinya menjadi awal musim kemarau. Beban yang berada di tas juga semakin terasa berat sekali. Ternyata Azura tidak sendirian ada dua orang kakak kelasnya Widian dan Furqon. Di lingkungan rumahnya hanya mereka yang satu sekolah dengannya. Sayangnya Azura tidak pernah akrab dengan mereka. Lagipula ia tidak berani memulai obrolan, mereka laki-laki dan dia perempuan. Rasanya tidak wajar perempuan memulai pembicaraan dengan orang yang kurang di kenalnya. Sesampainya di rumah, Azura langsung menenggak segelas air untuk memuaskan rasa dahaganya. Setelah mengganti baju seragam, dia hempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Lega rasanya, dan Azura pun beranjak tidur siang. Akhirnya semua rasa letih hilang. Seperti biasa, setiap sore hari Azura belajar. Keesokannya di sekolah. Azura mencoba menanyakan tentang Widian dan Furqon dengan temannya Akbar. Akbar teman sekelas Azura yang cukup dekat dengannya. “Bar, lu kenal sama Furqon dan Widian?” Azura memulai pembicaraan. “Iya, dia teman gua juga. Dia kakak kelas yang baik. Orangnya enak di ajak ngobrol. Emang kenapa? Lu suka sama mereka?” setelah menjelaskan Akbar malah balik bertanya. “Gak lah. Gila kali lu, masa gua naksir orang yang belum gua kenal!” jawab Azura dengan mimik wajah bingung. “Terus lu mau apa nanyain dia pada?” “gua cuma pengen tau aja. Mereka tetangga gua tapi gua gak pernah akrab sama mereka.” “Ooohhh…” Ujar akbar dengan membulatkan mulutnya. “Ih jelek banget lu kayak gitu.. hahaha…” Ejek Azura. “Welah, orang ganteng begini. Ayo ngaku sama gua. gua sadar kok saking gantengnya gua lu jadi susah ngungkapin perasaan lu ke gua.” Akbar dengan pede memegang kerah bajunya. “OMG, mimpi apa gua semalem? Bukan saking gantengnya, tapi saking jeleknya kali…” Ujar Azura dengan sinis. Sambil manyun pada Akbar. Jam istirahat, Azura dkk (dan kawan-kawan maksudnya) jajan di kantin sekolah. Tiba-tiba ada akbar dengan Furqon menghampiri Azura. Azura dan teman-temannya berhenti. “Ra, nih Furqon. Furqon ini Azura.” Kata Akbar sambil tersenyum dengan ciri khasnya, entah senyum entah manyun. “gua juga udah tau!” Seru Azura dan Furqon bersamaan. Sambil mengerutkan kening. “Ooohh, gua kan cuma kasih tau doank.” Akbar malu sendiri. Kemudian Azura dkk kembali menuju kantin dan Furqon pun pergi begitu saja meninggalkan Akbar, Akbar pun berlari mengejar Furqon. “Furqon tunggu gua.” Teriak Akbar. “Lelet pisan euy. Kayak siput lu. Tapi kayaknya lebih jelek dari siput deh… hahahaha..” Ejek Furqon. “Sial, dasar kampret !” “Kampret apaan sih Bar?” “Kampret artinya ganteng.” Jawab akbar sambil memberikan senyum liciknya “Makasih, tapi gua gak yakin artinya itu. Kalau kata gua lu jauh lebih kampret” “Sial, gua gak pernah bisa ngerjain lu.” Akbar manyun. Pulang sekolah, seperti biasa Azura, Furqon dan Widian satu angkot dan juga satu perjalanan. Tampaknya Azura masih bingung dengan kejadian saat istirahat tadi. Furqon dan Azura saling berpandangan. Tapi tiba-tiba Widian mencoba mengajak bicara Furqon. Perhatian Furqon jadi terfokus pada Widian tetapi terkadang ia melirik ke arah Azura. Azura yang tampak risih memilih membaca komiknya untuk menghilangkan rasa sepinya. Tapi tiba-tiba Azura terkejut ketika Furqon mengajaknya bicara. “Azura, temannya Akbar juga?” “Iya, gua Azura teman sekelasnya akbar. Hmm… lu kenal sama Akbar juga darimana?” “Dulu gua suka satu warnet sama dia. Makanya gua akrab sama dia.” “Oh.” Suasana kembali hening. Azura kembali membaca komiknya. Sedangkan Furqon dan Widian masih memperhatikan Azura. “Ada apa? Kok ngeliatin gua gitu banget? Ada yang aneh ya?” Azura memecahkan keheningan. “Gak ada apa-apa. Rumah lu yang pagar biru bukan?” sekarang Widian yang berbicara. “Hmm… iya. Kok lu tau?” “gua sering lihat lu.” “Oh.” “An, dikit lagi sampai tuh.” Furqon menghentikan obrolan Widian dan Azura. “Oh iya.. Bareng kan Ra?” tanya Widian kembali membuka pembicaraan. “Iya.” Azura hanya menjawab dengan singkat. “gua duluan ya Furqon, Widian.” Ujar Azura sambil tersenyum tipis. “Oh iya..” balas Widian dan Furqon sambil tersenyum. Di hempaskan badannya ke tempat tidur, Azura tampak bingung dan senang dengan perkenalannya dengan Widian dan Furqon. Keduanya memang tampan. Seperti biasa Azura tidur siang untuk menghilangkan rasa letihnya. Pagi ini Azura tampak bersemangat ke sekolah. Tampak juga Widian yang ingin berangkat. Azura pun tersenyum pada Widian begitu juga dengan Widian. Widian mencoba membuka pembicaraan. “Boleh bareng?” “Boleh, sendirian aja? Furqon mana?” “Dia selalu di anterin kalau berangkat.” “Oh.. gua kira lu bareng juga kalau berangkat.” “Kadang-kadang sih bareng kalau dia gak di anter.” “Oh.. sekarang jadi kita yang bareng. Kayaknya lu sehati banget sama Furqon. Rumah deket, sekolah bareng.” “Welah, gak segitu sehatinya kali. Kalau lu mau, setiap pagi kita berangkat bareng ya?” “Boleh, boleh.. gak nyangka bisa akrab sama lu. Maaf nih gua gak pake ngomong kakak sama lu. Kayaknya jadi kurang akrab.” “Iya gak apa-apa. gua ngerti maksud lu. Santai aja sama gua dan Furqon.” “Kakak kelas yang baik, hehehe… eh udah mau sampai nih, gak terasa ya?” “Iya, kalau ngobrol pasti gak akan terasa.” Jam istirahat. Hari ini Azura hanya sendiri ke kantin. Teman-temannya sedang mengerjakan tugas.Azura memang anak rajin yang selalu mengerjakan tugas. Di tengah ke sendiriannya tiba-tiba dua orang lelaki menghampirinya, siapa lagi kalau bukan Widian dan Furqon. “Hai Ra.. Sendirian aja? Temen lu pada kemana?” tanya Widian. “Ada,lagi di kelas ngerjain tugas.” “Lu gak ngerjain juga?” tanya Furqon. “Udah, itu pada nyontekin tugas gua.” “Mau ke kantin bareng?” tanya Widian. Sekarang mereka bertiga tampak begitu akrab. Banyak hal yang sering mereka lakukan bersama. Mulai dari berangkat sekolah, saat jam istirahat, saat pulang sekolah dan mereka jadi sering main bersama di rumah. “Gak nyangka kita bertiga jadi deket gini.” Ujar Furqon “Iya..” Jawab Azura dan Widian bersamaan. Sayangnya Azura tidak tahu kalau Furqon dan Widian menyimpan rasa padanya. Selama ini Azura juga menyimpan perasaannya pada Widian. Mereka saling memendam perasaannya satu sama lain. Entah sampai kapan mereka akan terus memendam perasaan itu. Di suatu malam Furqon datang ke rumah Widian. Tidak seperti biasanya, ia tampak gugup saat bicara pada Widian. “An, lu mau bantu gua gak?” “Bantu apa? Tumben sampai gugup begitu ngomongnya. Kalau bisa gua bantu akan gua bantu. Kenapa lu gak minta bantuan Azura juga?” “Itu dia masalahnya. gua…” “Lu kenapa? Terus apa hubungannya sama Azura.” “gua… sayang… A..z..u..ra.” Furqon terbata-bata. “gua tau, gua juga sayang Azura, karena kita bersahabat.” “Bukan sayang sahabat, tapi lebih dari sahabat.” Seketika itu Widian termenung mendengar perkataan Furqon. Hati kecilnya tidak bisa berbohong kalau ia cemburu, kalau ia juga memiliki rasa yang Furqon rasakan juga pada Azura. “An, kok lu diem sih?” “gua..” “Lu kenapa? Kok lu jadi gugup juga?” “Please jangan marah sama gua, karena gua gak mau persahabatan kita ancur. gua juga sayang sama Azura lebih dari sahabat. Tapi kalau lu mau memiliki dia, gua akan coba untuk ikhlas.” “Tapi gua juga mau lu bahagia. Lu sahabat gua An. Lebih baik lu yang memiliki dia.” “Makasih atas keikhlasan lu. Sekarang terserah Azura.” “Iya, gua setuju. Kita harus ngomong sama Azura besok.” “Iya.. kita harus terima atas ke putusan Azura nanti.” “Itu pasti.” Sedangkan di rumah Azura juga sedang berkecamuk dengan perasaannya pada Widian. Ia berharap Widian memiliki perasaan yang sama dengannya. Azura hanya menunggu Widian. Ia sangat mengharapkan Widian menyatakan perasaan yang sama dengannya. Hari Minggu pagi yang cerah seperti biasanya Azura, Widian dan Furqon lari pagi bersama. Dan inilah saatnya Furqon dan Widian menyatakan perasaan mereka pada Azura. “Ra..” “Ada apa Widian?” “gua sama Furqon pengen ngomong sesuatu sama lu.” “Iya, ngomong apa? Ngomong aja lagi. Gak kayak biasanya lu berdua keliatan gugup begini.” “gua, sama Widian pengen ngungkapin perasaan kita berdua ke lu.” “Maksud lu apa? ” “gua dan Furqon menyayangi lu lebih dari sahabat. gua dan Furqon sama-sama beharap bisa memiliki lu. Tapi itu gak mungkin, cuma ada satu Azura. Jadi semua terserah lu Ra.” Seketika itu Azura hanya diam. Apa dia harus memilih Widian karena ia juga menyayanginya. Tapi bagaimana dengan Furqon yang selama ini sangat baik dengannya. Azura termenung. “Ra, atau lu udah punya gebetan ya?” “Iya, tapi itu salah satu di antara kalian.” “Siapa Ra. gua sama Widian udah janji untuk gak dendam.” “Kalau gua boleh jujur. gua sangat mengharapkan lu.. Widian.” Seketika itu suasana tampak hening. Furqon tampak murung. Sedangkan Widian masih tampak tak percaya. Sedangkan Azura hanya menundukan kepalanya. “Tapi gua gak akan memilih di antara kalian. gua emang sayang Widian tapi gua juga sayang sama lu Furqon walau sayang gua ke lu gak sebesar sayang gua ke Widian. gua mau kita tetap bersahabat seperti dulu. Lupakan semua ini. gua yakin sahabat-sahabat gua ini pasti dapat cewek yang cantik dan baik. Percaya gua.” Azura memecahkan keheningan “Makasih Azura atas kebijaksanaan lu. gua juga gak mau persahabatan kita jadi ancur karena ini. Furqon, lu jangan marah sama gua ya!” “gua gak akan marah, Widian dan Azura emang sahabat sejati gua. Lagian kalau kalian jadian juga gak apa-apa. gua rela kok.” “Furqon, gua dan Widian hanya akan jadi sahabat. Kita akan tetap jadi sahabat okey. Just best friend, forever.” Azura pun memeluk Furqon. “gua juga mau donk di peluk, hehehe..” Canda Widian. Merekapun saling berpelukan dan berseru. “We always be best friend.”

Ini Aku

“Hey! Jangan lari! Gue cuma pengen tau lo siapa!” kata Fahru terhadap orang yang tak dikenal itu. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk menguntit. Aku tidak berniat jahat. Sungguh.” Pria yang tak dikenal tergagap menjelaskan kepada Fahru. Sudah 2 hari berturut Fahri diikuti oleh lelaki yang tak dikenal dan misterius itu. Namun tiap kali tertangkap, terbata-bata ia menjelaskan ia tidak punya niat jahat terhadap Fahru. Kejadian itu sangat mengganggu bagi Fahru. Ia merasa tidak nyaman atas kehadiran lelaki misterius yang selalu mengikutinya dimanapun ia berada. Hari ini Senin tepat tanggal 11 Juni. Hari ini adalah hari ulang tahun Fahru yang ke 17 tahun. Di pagi itu Fahru berangkat ke sekolahnya SMU 09. Sesampainya ia di sekolah semua terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang aneh yang terjadi pada dirinya dan juga teman-temannya. Fahru juga tidak ingat bahwa hari ini adalah hari lahirnya. Pada jam pertama pelajaran telah dimulai, Pak Santoso guru Sejarah di SMU 09 masuk dengan lelaki berambut hitam, bermata bulat, berkulit cerah. Wajah lelaki itu seperti wajah artis korea, mulus sekali. Putih bersih tampak sangat terawat. Ketika Pak Santoso masuk, seisi kelas masih bising dan acak-acakan. “Hey!!! Harap tenang! HEY!!! TENANG!!!” Lalu seisi kelas terdiam dan merapikan kursi yang letaknya sangat berantakan. Fahru kelihatan kaget saat melihat lelaki yang ada di samping Pak Santoso. Lelaki itu yang selama ini mengikuti Fahru selama ia berada di luar dan berpergian. Fahru semakin penasaran siapa sosok lelaki misterius itu. Wajah Fahru tampak gelisah dan berbisik ke teman yang duduk di belakangnya. “Eh Bro, itu tuh orang yang sering ngintilin gue.” “yang itu? Buset gantengnya ngalahin lu tuh.” “Sumpah tuh anak ngeselin banget. Kayak apaan coba gua diintilin terus. Tapi anehnya gua gak dicopet atau dibunuh gitu.” “Naksir kali tuh orang sama lu. Wkakakak” “PARAH LU! MAHO DONG!” “Ya, kali aja gitu.” Pak Santoso menyuruh laki-laki misterius itu memperkenalkan dirinya. “Baiklah. Sekarang kamu perkenalkan diri kamu ya.” “Iya Pak.” Lelaki itu pun kaget ketika melihat Fahru berada di kelas itu. Dia tak tau ingin berkata apa-apa lagi dan mungkin ia ingin lari jauh-jauh namun tidak mampu. “Per-perkenalkan. Na-na-nama saya Miko Setiawan. Saya pindahan dari Bandung.” “Oke, anak-anak. Ini teman baru kita. Semoga kalian bisa menerima Miko dengan baik di sini. Jangan ada yang jahil lagi. Mengerti itu? Khususnya buat Fahru.” “Loh, kok saya sih Pak? Saya ini orang baik-baik.” “kamu kan yang sering jahilin teman sekelas kamu. Bapak minta tolong sama kamu. Jangan bikin ulah lagi. Mengerti?” “Iya deh Pak.” “Baiklah Miko. Kamu duduk di sebelah… Nah, di sebelah Rian saja ya.” “Iya Pak. Terima kasih.” Selama pelajaran berlangsung, Miko tidak mengalihkan pandangannya dari Fahru. Fahru juga merasa bahwa ia sedang dipandangi oleh Miko. Fahru benar-benar gelisah dan salang tingkah. Rasa takut yang menyelimuti wajah Fahru membuat badannya keringat dingin dan gemetaran. “Ru, Fahru. Kenapa lo?” “Sumpah Ga. Gua parno banget sama tuh anak. Jangan-jangan dia beneran maho lagi. Dia ngelihatin gua terus dari tadi.” “Anjir. Seriusan lo?” “iya. Lu tau sendiri gua paling takut sama mahondes.” “Parah gila. Hati-hati aja ya. Wkwkwk” Ternyata memang benar. Sampai jam pelajaran habis pun Miko masih saja memperhatikan Fahru. Sebenarnya Fahru ingin menjahili Miko. Tapi semuanya gagal karena Miko dianggap aneh dan maho. Bel pulang berbunyi. Akhirnya Fahru terbebas dari Miko. Pandangannya itu sangat aneh. Benar-benar aneh. Di hari ulang tahun Fahru di tahun ini sama sekali tidak menyenangkan. Fahru berjalan menuju Kos-kosannya. Kosannya itu lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Fahru telah merangkai kegiatannya nanti. Namun ia mempunyai feeling seperti ada sesuatu yang mengganjal. Sesampainya di kosan ia terkejut bukan main. Ada seseorang yang sedang duduk di meja belajarnya. Dan orang itu adalah Miko. OH MY GOD. Apa yang sedang terjadi? Kenapa dia ada di sini? “WOY!!! Ngapain lo di sini?” Miko pun terkejut. “Hah? Maksudnya? Kamu yang ngapain di sini?” “Heh. Ini kamar gue!” “Kata ibu kos, ini juga kamar saya.” “Lo siapa sih? Ngapain sih lo ngintilin gue terus?” “Kalau untuk sekolah dan tinggal di kosan ini, sungguh aku tidak mengikutimu. Mungkin ini hanya kebetulan.” “Terus? Setiap gue keluar ngapain lo ngikutin gue?” Miko tidak menjawab pertanyaan dari Fahru. Dia menghampiri Fahru dengan memberikan kotak yang berupa kado kepada Fahru. “Selamat Ulang Tahun ya. Semoga kamu sadar apa yang sedang terjadi.” “maksud lo apa sih? Terus, lo tau dari mana kalau hari ini gue ulang tahun?” Belum sempat Miko menjawab Ibu kos mengetuk pintu kamar dan masuk untuk berbicara. “Eh, nak Fahru sudah pulang ya. Untuk sementara Miko sekamar sama kamu ya. Mas Romi sebentar lagi pindah kok, jadi menjelang pindah Miko di sini dulu.” “hah? Kok? Tapi Bu, dia sama yang lain aja deh ya.” “Lho, memangnya kenapa? Kamar yang lain sudah penuh. Satu-satunya kamar yang isinya hanya satu orang, ya kamu doang.” “Haduh, sial banget sih gue!” “Ya sudah, saya tidur di luar saja Bu. Saya hanya menitip tas dan barang-barang saya saja di sini.” “Nah lo. Jangan. Gak papa kamu tidur di sini saja. Kalau Fahru gak mau, bilang aja sama Ibu.” “Iya Bu.” Setelah Ibu kos keluar dari kamar, Fahru menyuruh Miko untuk pergi dan keluar dari kamarnya. “Eh, Lo keluar sekarang! Nih bawa kado ini! Gua gak butuh. Sekarang lo pergi.” Desak Fahru. “Iya, aku gak akan tidur di sini. Tapi aku minta tolong sama kamu untuk jagain barang-barangku.” Entah mengapa jantung Fahru berdebar dan merasa kasihan ketika melihat wajah Miko dan matanya yang berkaca-kaca. Tapi tetap saja Fahru tidak ingin hal aneh dan buruk terjadi pada dirinya jika Miko berada di sini. “Ya udah, gue bakal jagain barang-barang lo.” “Makasih ya.” “Lo maho ya?” Miko tidak menjawab atas pertanyaan Fahru, ia hanya tersenyum kecil dan meninggalkan kamar itu. “eh, mau kemana lo?” Tanya Fahru. “Aku mau ke Musholla.” Fahru semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Kalau dia h*mo, tidak mungkin dia taat sama agama. Sangat membingungkan. “ya udah, silahkan.” Setelah beberapa menit Miko belum juga kembali dari Musholla. Fahru sedang asik mendengarkan lagu kesukaannya menggunakan earphone sambil membolak-balikkan komik. Tanpa sengaja Fahru menyenggol ransel Miko yang tidak tertutup. Berserakanlah barang-barang yang ada di dalamnya. Saat ia ingin memasukkannya kembali, ia melihat ada foto seorang anak laki-laki yang sedang berulang tahun dan anak laki-laki itu adalah dirinya. Fahru terkejut saat melihat, begitu banyak fotonya di dalam ransel Miko. Fahru semakin tidak mengerti. Namun di antara banyaknya foto itu ada satu foto wanita yang sangat ia kagumi, yaitu Clara. Pikiran Fahru semakin kacau tak karuan. Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Ia pandangi wajah wanita yang cantik itu dengan tersenyum kecil. Fahru mencoba mengingat masa lalu mereka ketika bersama. Clara memang anak perempuan yang bertingkah laku seperti seorang lelaki. Bisa dibilang tomboy. Sebenarnya Fahru menyukainya dari dahulu, tampaknya Clara pun begitu. Namun setelah mereka duduk di bangku SMP, seperti ada yang berubah pada diri Fahru. Ia semakin apatis dan seperti membenci Clara. Hingga pada saat Clara mengatakan bahwa ia menyukai Fahru, bahkan Fahru membentak dan menghina Clara. Fahru memang berubah saat ia berteman dengan para berandalan itu. Ia dipengaruhi dan menjadi anak yang sangat nakal. Hingga sampai sekarang ini. Namun saat kelas 2 SMP Clara pindah sekolah entah dimana. Semenjak itu pula Fahru merasa kehilangan seseorang yang sebenarnya selama ini ia kagumi dan ia nanti. Bagi Fahru itu semua sudah berlalu dan mungkin Clara tidak mungkin kembali untuk dirinya. (tok, tok, tok) Fahru tersentak dari lamunannya dan bergegas merapikan barang yang ada di ransel Miko. “iya, iya. Sebentar.” Jawab Fahru dengan panik. “maaf, aku sepertinya harus pergi dan pindah ke kosan lain.” “memangnya kenapa?” “Ya gak papa. Aku cuma gak mau mengusik dan menganggumu.” “Hmm, ya udah, terserah lo aja. Bagus juga sih kalau lo mau pindah.” Miko hanya tersenyum kecil. “Eh, tunggu sebentar deh. Gue pengen nanya sesuatu sama lo.” “tanya apa?” “Hm, sebelumnya maaf ya. Tadi gue gak sengaja nendang tas lo, terus isinya berantakkan. Pas gue liat, kok banyak foto gue waktu kecil ya? Lo siapa sih sebenernya? Oh iya, terus ada foto anak perempuan yang rada-rada eror gitu, si Clara. Lo siapa sih?” “Baiklah. Aku akan jujur. Aku adalah perempuan yang eror itu.” “hah? Maksudnya?” “Fahru, kamu inget gak waktu kamu menghina aku di depan semua orang? Kamu bilang, kamu bakal suka dan cinta sama aku kalau aku berubah menjadi lelaki sungguhan. Dan sekarang kamu lihat, aku sudah berubah menjadi lelaki sungguhan. Kamu bahkan jijik melihatku semenjak kamu bermain bersama teman-teman baru kamu yang berandalan itu. Kamu menghina aku perempuan sinting. Aku gak pernah nyangka kamu jadi begini Ru.” “hah? Sumpah gue gak percaya.” “Aku tau Fahru, kamu benci sama perempuan yang tomboy. Aku sadar, dan aku gak akan pernah mengejar kamu lagi. Di hari ulang tahun kamu ini aku ungkapkan lagi, bahwa aku akan tetap sayang sama kamu meskipun kamu benci sama aku. Ini adalah ungkapan yang kedua kalinya yang pernah aku utarakan ke kamu. Di ulang tahunmu yang ke 14 waktu itu mungkin adalah hari terburuk yang pernah aku temui. Tapi percayalah, aku tetap ada untukmu jika kamu membutuhkan aku seperti janji di masa kecil kita yang pernah kita ucapkan di sepanjang jalan Mayor waktu itu. Aku mengutuk diriku sendiri karena aku tidak sanggup mendengar hianaan itu Ru. Kutukan ini akan kembali kalau kamu memang tulus cinta sama aku. Tapi aku rasa semuanya gak mungkin.” “Semuanya mungkin Ra!” “Maksudnya?” “Jujur, aku selama ini kehilangan cewek jagoan yang aku banggain. Apalagi ketika kamu pindah sekolah. Jujur aku sangat kehilangan dan menyesal pernah menghina kamu di depan semua orang. Aku kangen banget sama Clara. Wanita yang rada-rada eror yang aku kagumi sejak masih kanak-kanak. Aku bahkan ingin mengatakannya, tapi aku tidak pernah bisa Ra. Aku marah dan benci karena kamu lebih mendahului aku untuk mengatakannya. Aku malu sebagai seorang lelaki yang tidak bisa mengungkapkan perasaanku terhadap wanita yang aku cintai selama ini. Aku merasa bahwa aku adalah lelaki yang paling hina di mata dunia. Dan aku sangat bangga sama kamu Ra. Kamu berani mengungkapkannya tanpa ragu. Aku malu.” “Ru. Aku menyukaimu dan mencintaimu bukan lewat ungkapan. Tapi aku menunjukkan bagaimana cara aku mencintaimu, itu yang lebih penting.” “Clara, maafkan aku. SUMPAH AKU CINTA KAMU! Hingga saat ini aku masih mencintai kamu. Dan belum pernah aku menyinggahi hati wanita lain setelah kamu pergi begitu lama. Hanya kamu yang aku nanti Clara.” Tak disangka Clara berubah menjadi wanita yang sangat cantik. Fahru ternga-nga dan tidak percaya ketika melihat begitu cantiknya Clara dengan rambut panjang terurai. Fahru adalah pria paling beruntung bisa mendapatkan Clara. Ini bahkan menjadi kado terindah dalam hidup Fahru. Yaitu mendapatkan kembali apa yang selama ini ia nanti. Dan Clara pun senang ia bisa kembali seperti semula. Dan ia berjanji akan mengubah sikapnya menjadi wanita yang feminim. Akhirnya Fahru dan Clara bisa bertemu kembali dengan cara yang sangat ajaib dan menakjubkan.
Posted By: allandia

Ini Aku

Cinta Kamu Bukan Untuk Aku

Ruang Aula sudah sesak dipenuhi oleh banyak siswa-siswi. Ya! Dimulai dari ruangan ini aku mempunyai sekolah baru. Aku sedang masa orientasi siswa, ya.. yang biasanya disingkat dengan MOS. Di awal sekolah baruku ini aku hanya sendiri. Karena memang sama sekali aku tak mempunyai teman dari sekolah asal ku. Dan bodohnya lagi, aku sangat susah untuk akrab dengan orang yang baru ku kenal. Lantas? Aku harus apa? Menanyakan soal tentang apa yang harus dibawa pada MOS hari selanjutnya saja gelagapan. Tapi, untungnya, ada satu cewek yang tiba-tiba sok kenal dan sok dekat gitu deh.. dia memperkenalkan diri. sebut saja namanya Lubna. Kupikir, di sekolah yang baru ini, aku benar-benar memang tidak bakal mempunyai teman. Tapi, Alhamdulillah.. Tuhan masih adil kan? Kami selalu bersama sepanjang MOS tersebut. Sampai kami dipisahkan oleh kelas yang berbeda. “Lubna Putri Salsabila, kamu di kelas sepuluh satu ya,” Kata kakak kelas yang diakui bernama Satria tersebut. Haruskah aku berpisah? Tuhan, kenapa secepat itu kau memisahkan seorang teman yang baru saja akrab ini “Claudy Syifatunisa, kamu di kelas sepuluh tiga.” Aku sedikit terkejut. Ku kira, aku dan Lubna akan terpisah hanya beda satu kelas. Tapi? Ternyata beda dua kelas. Sama artinya, kelas kita pasti berjauhan. Setelah, pembagian kelas tersebut. Tugas terakhir di MOS ini adalah bersih-bersih daerah sekolah. Ada yang membersihkan kelas, ada yang memunguti sampah-sampah yang tergeletak di hamparan hijaunya rumput dekat lapangan. Ada yang mengabil juga sampah yang terlihat dekat aula. Dan sampai ada yang bersih-bersih ruangan-ruangan lainnya. Untung saja, Aku dan Lubna kebagian sama. Kami kebagian membersihkan derah taman dekat lapangan tersebut. “Dy, walaupun kita tak sekelas. Tapi bersih-bersih ini kita akhirnya bareng juga ya.” Lubna tiba-tiba memecahkan keheningan saat aku dan dia sama-sama sudah habis bahan pembicaraan. “Eh, iya, Na. Tapi kita tetap temanan kan? Ya.. walaupun dipisahkan kelas seperti itu.” Aku berbicara sedikit lesu. Ya, mungkin karena baru hanya dia yang ingin berteman denganku. Aku. Yap! Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang wanita yang tak mempunyai paras cantik nan anggun. Aku wanita kurus kering seperti tak pernah diisi gizi. Walaupun tinggi badanku sudah mencangkup wanita yang ideal. Tapi, aku bersyukur kepada sang Pencipta. Pasti, ada sesuatu dibalik badanku yang seperti ini. Ya, walaupun aku jelek. Tapi aku perempuan yang cerdas. Hobi ku yang sering baca buku ternyata membawakan sebuah hasil yang memuaskan untuk diriku. Apalagi dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan Biologi. Alhamdulillah, ulangan pelajaran itu aku selalu mendapat 100. Hobiku ini tertular dari Ayah yang sering membacakan ataupun menceritakan tentang apa saja hal yang menarik. Ngomong-ngomong menarik, aku sangat suka sekali dengan hal yang seperti itu. Terlebih jika tentang artikel-artikel. Selain parasku yang tak cantik ini. Aku juga bukan sosok orang yang berada. Ayah hanya seorang penjual tas. Dan Ibu hanya menganggur, mengurusi keluarga di rumah. Apalagi, adik sedang sakit. Entah penyakit apa yang diserangnya. Tapi kata Ibu, duit yang ia punya tak mencukupi untuk membayar pengobatan Adikku. Adikku bernama Damar. Dia masih sekolah SD. Tapi, setelah ia mempunyai penyakit ini, ia sudah tak sekolah karena tubuhnya yang tak kuat apabila sinar matahari merasuki badannya itu. Aku jadi bingung sendiri… Tapi, pernah aku membaca buku. Manusia akan kuat jika terkena matahari. Tapi kok Damar? Entahlah, namanya juga penyakit. “Hey! Kalau jalan lihat-lihat dong. Jangan sambil bercanda seperti itu.” Aku terkejut setelah mendengar perkataan seperti itu. Aku menoleh ke arah suara yang mengangetkan barusan. Oh. Ternyata dia. Ya! Dia kakak kelas yang sejak tadi diceritakan oleh Lubna. “Maaf, kak.” dengan sopan aku meminta maaf kepadanya. Dia agak sedikit terpesona. Ya! Tersepona. Tapi bukan dengan ku. Melainkan dengan Lubna. Wah, jangan jangan. “Hey, kak! Sudah dimaafin kan? Kami duluan ya, kak!” Aku langsung menyeret Lubna untuk menjauh dari kakak itu. Kalau sudah seperti ini. Pasti ada sesuatu di antara dia dan kakak-kakak itu. “Fa, biasa aja dong nariknya. Gak bisa ngelihat orang seneng apa!” Dia memprotesi aku karena aku tadi menariknya dan menjauh dari kakak yang tak sengaja tertabrak dengan kami itu. Kami sudah setahun berteman. Tidak ada pertengkaran di antara kami. Dan kalian tahu? Setiap kami bertemu dengan kakak yang disukai oleh Lubna pasti dia langsung menjerit fanatik. Ya. Lubna sangat suka sekali dengan kak Rendi. Seorang cowok yang pernah tertabrak oleh kami sewaktu dahulu dan memberikan pandangan pertama pada sosok Lubna. Semakin hari aku juga lelah sih kalau terus-terusan mendengar cerita dari Lubna itu. Bayangkan setiap pagi, setiap kami nunggu angkutan umum jika kami ingin berangkat sekolah, dia hanya menceritakan tentang kak Rendi. Siapa yang tidak bosan?. Akhirnya, jika dia sedang ingin hanya membicarakan tentang Kak Rendi lagi, aku langsung memotongnya dengan pembicaraan lain. Entah itu menanyakan PR atau tugas lainnya. Biar tau rasa gimana rasanya di gituin! Sampai suatu saat dia merasa kalau cerita yang ia lambungkan ke udara tersebut diacuhkan oleh ku. “Fa, lo kenapa sih? Setiap gue cerita gak pernah dengerin gue lagi?” Tanyanya. Akhirnya dia merasa juga. Kenapa bukan dari dahulu merasanya? Dasar orang yang tak pekaan! “Hah? Emang ya? Maaf deh, lagi lo cerita kak Rendi terus sih. Gue kan juga bosen..” Frontal ku. Maaf deh, Na. Bukan itu yang aku maksud. Hanya ingin memberitahumu kalau dunia tak sesempit cerita kamu dengan Kak Rendi. Dia hanya diam. Tak menjawab pembicaraan ku lagi. Sampai kami sampai di sekolah. Dan waktu kami ingin pisah kelas aku jadi tak enak sudah berbicara se-Frontal seperti tadi. “Maafin gue ya, Na. Gak seharusnya gue ngomong gitu tadi,” Kataku gugup. Aku gugup, mungkin karena sudah menyakitkan hati sahabatku ini. “Gak apa-apa kok. Gue yang salah. Sudah ya, nanti istirahat bareng..” Ucapnya sembari tersenyum. Tapi, itu bukan senyum yang pernah ia lengkungkan jika sedang senang. Melainkan itu senyum terpaksa. Benarkah ia sakit hati sudah dengan ucapan ku tadi? Pastilah! “Fa, gue jadian sama Agung! Coba lo bayangin, tiba-tiba dia nembak gue semalem. Waktu kita lagi jalan,” Tiba-tiba datang ke rumah ku tanpa mengucapkan salam. Tanpa mengetuk pintu. Tanpa melihat adakah orang di rumahku. Ya seperti biasa. Dia yang selalu rutin menghampiri rumahku sebelum kami berangkat sekolah. Mentang-mentang di rumah Ayah sama Ibu sedang ke rumah sakit. Uh! “Whaaa.. selamat ya. PJ dong..” Aku meminta traktir darinya. Selamat deh, Na. mungkin cerita tentang Kak Rendi akan punah. Oh god! Memang cerita Ka Rendi bakalan punah. Tapi pasti cerita tentang Agung akan mengudara di mulut kamu. Huuuh! Untungnya, perkiraan ku salah. Dia jarang menceritakan tentang Agung. Ya. Walau masih cerita sedikit demi sedikit, yang jelas tidak seperti menceritakan tentang Kak Rendi. “Fa, kenal sama yang namanya Dwiqi?” tanyanya. Dwiqi? Oh. Dia teman semasa kecil ku. Dan sekarang kami satu sekolah yang sama. Tetap, walaupun dia beda kelas dengan ku. “Kenal. Kenapa emang?” aku bertanya kembali. “Dia ganggu gue mulu tuh. SMS-in gue mulu lagi. Norak banget caranya.” Hahaha. Aku hanya tertawa mendengar opininya tersebut. Dwiqi? Cowok kecil tapi manis. Memang sewaktu SD dia terkenal dengan kepintarannya. Tapi, aku dengar-dengar akhir-akhir nilainya selalu turun. Entah karena pengaruh apa? Aku pun tidak tahu. “Mana sini gue minta nomornya?” entah dari setan mana, aku meminta nomornya pada Lubna. Mungkin sekedar ingin mengerjai balik. Malamnya, aku mengirimkan sebuah SMS kosong kepadanya. Lalu dia menjawab. “Siapa nih?” Akhirnya aku terus menjawab dan menjawab dan menjawab. Ternyata ketahuan siapa aku. Dan kami menjadi sahabat hingga sekarang. Dan sampai suatu saat, dia bilang kalau dia suka dengan Lubna. Aku sudah tahu dari awal. Pasti alasan dia mengodai Lubna pada jam-jam yang sedang dilalui bersama dengan Agung karena dia ingin mereka putus terlebih dahulu. Lalu Dwiqi menyatakan perasaannya. “Ya udah, tembak lah.” Ucapku asal saat dia menelepon ku malam-malam. Waktu itu sudah pukul 1 pagi. Waktu yang sangat larut bukan? Aku bisa tidur selarut itu karena Dwiqi. Entah jadi kebiasaan atau memang keasyikan berbicara lewat telepon dengannya. Hari demi hari ku lewati, bulan bertemu bulan ku jalani, dan sudah 1 tahun aku bersamanya. Aku jadi terlarut dengan perasaan ini. Aku terlarut saat dia perhatian denganku. Aku terlarut saat dia tersenyum manis kepadaku. Ya. Aku suka dengannya. Tapi, aku tak pernah menceritakan semua tentang ini kepada Lubna. Untuk apa? Dia sudah sibuk dengan Agung sang kekasih. Mungkin bisa dibilang, dia sudah lupa denganku. Bahkan di sekolah pun, kami jarang bertemu. Sampai suatu saat, dia merasa ada yang janggal atau apa. Dia bisa-bisanya bilang begini, “Lo perhatian banget sama gue, Fa? Lo suka ya sama gue?” Dengan suara sedikit lembut namun agak serak dia berbicara seperti itu. Dan bodohnya. Padahal itu sebuah kesempatan, tapi aku malah mengumpatnya dengan rada malu bercampur kaget. “Hah? Engg..gak salah? Iyuh banget gue suka sama lo!” Seruku agak meninggikan kan ‘Gak salah?’ Tuhan, bodoh sekali aku. Kenapa sih? Ego ini. Gengsi ini. Ini yang membuat semuanya menjadi hancur berantakan. Seharusnya jika aku jujur, akan menjadi indah. Apakah ini sebuah teguran darimu, agar aku menjauh darinya? Agar aku tak sakit hati lagi? Haaaah! Akhirnya, tiba-tiba hubungan kami tidak membaik. Dia sudah jarang menelepon ku saat malam-malam biasanya. Dia hanya sekali-dua kali SMS ku, hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting. Dan sampai pada akhirnya, semuanya hilang saat terakhir kali dia mengataiku dengan sebutan ‘hewan’ yang sangat tidak sopan dilakukan oleh seorang laki-laki kepada perempuan. Dia mengataiku memang tidak langsung, melainkan lewat SMS. Tuhan, bunuh aku sekarang! Sakit sekali tiba-tiba dapat SMS dari orang yang kita sayangi seperti itu. Salah apa aku? Setahuku, aku tak pernah ngapa-ngapain dengannya. Aku tidak pernah menceritakan kalau aku suka dengannya pada orang lain. Sudahlah! Memang dari awal tak seharusnya aku mengenal dia. Tak seharusnya aku dekat dengan dia jika hanya ini yang aku dapatkan. Sakit hati sekali. Ini melebihi sakitnya, saat aku tahu bahwa Damar, adikku koma di rumah sakit. Perih sekali. Sudah 2 tahun aku masih memendam perasaan ini. Tak mengharapkan apa-apa sebenarnya, mungkin hanya membuang waktuku saja, untuk orang yang tak sepenting dia. Tapi, kalau sudah sayang? Haaah! Hanya membuat sesak jika mengingat itu. Ini sudah tahun ke-3 aku memendam rasa kepadanya. Ya! Selama ini hanya dia seorang laki-laki di hidupku selain Ayah. Setiap teman yang lain menceritakan cowok baru atau entahlah selingkuhan atau apapun itu. Aku hanya menceritakan dia. Hanya dia tak ada yang lain. Tanpa ku beri tahu namanya kepada teman-temanku. Coba bayangkan? 3 tahun bukankah waktu yang sangat lama? Kalau seorang bayi saja sudah bisa berlari-lari kencang. Ya. Sama seperti dia, sudah berlari-lari di pikiranku. Tapi aku baru menyadari kembali. Temanku. Teman beda kelas tepatnya. Namanya Ami. Dia bilang kepadaku begini, “Fa, lo kenal Dwiqi? Dia bilang sadis banget tadi. Dia bilang katanya lo jangan ngaku-ngaku sebagai mantan dia! Dia gak suka sama cewek kayak lo. Jelek aja belagu.” Tuhan! Aku ingin mengakhiri hidupku sekarang juga. Akhirnya, pada jam pelajaran Bu Radji guru Bahasa Indonesia aku menangis. Menangis yang hanya mengeluarkan air mata tanpa suara apapun. Aku terdiam dengan tatapan yang sangat kosong. Aku baru menyadari karena hal itu dia menjauh dari ku. Sesak sekali rasanya di fitnah oleh orang yang aku bangga-banggakan secara tidak langsung seperti itu. Mantan? Jangankan bilang mantan, aku bilang suka sekali sama kamu saja tidak ada yang tahu! Kok kamu jahat banget sih? Kenapa? Oh. Mungkin memang aku bukan seleramu. Mungkin semua yang ada di diriku bukan pilihanmu. Oke. Aku terima, aku bakalan menjauh darimu. Lihat saja! Aku akan temukan yang terbaik dari mu. Sombong sekali mentang-mentang sekarang menjadi idola cewek-cewek di sekolah. Akhirnya aku memutuskan. Memutuskan untuk menjauh darinya. Memutuskan untuk berlari ke ujung dunia. Memutuskan untuk mengakhiri perasaan ini. Terima kasih untuk semua yang kau berikan tentang arti bertahan karena yakinnya cintaku padamu, tapi hanya kau lukai perasaanku ini. Yang jelas, aku belajar arti bertahan darimu. Jujur cinta itu memang membutuhkan waktu untuk tetap hidup. Dan sayangnya waktu itu tidak untuk aku dan kamu.

Secercah Cahaya Dalam Kegelapan

Pagi yang cerah terlihat berbeda dari biasanya. Terik mentari di pagi hari menghadirkan sinarnya penuh arti. Kicauan burung tiada henti. Mengusikku dari tidur panjang ini. Setelah sekitar 6 bulan aku mengalami dilema. Dilema antara hidup dan mati. Mataku perlahan mulai terbuka, tapi sakit sekali rasanya menggerakan seluruh tubuh ini. Aku rasanya ingin tidur panjang lagi, tetapi batinku menolak. Ia ingin aku tetap hidup. Aku berusaha membuka mata ini dan menggerakan jari-jari tanganku kembali. Rasa sakit itu belum juga sirna. Kesal rasanya. “Andin bangunlah, Nak. Ini Ibu.” hah? Bisikan apa itu? Terdengar samar. Apakah itu bunda? Apakah akhirnya tuhan memberikan cahayanya untukku? Ah aku ingin mendengarnya sekali lagi agar aku benar-benar yakin kalau itu Ibu. Beberapa saat kemudian suara itu pun terdengar lagi. Bahkan semakin jelas di telingaku. “A-a-andin kembalilah pada Ibu. Ibu sangat rindu, Nak.” entah karena bisikan seorang Ibu atau sebuah cahaya itu yang membuatku memiliki kekuatan untuk menahan rasa sakit ini. Aku berusaha dan terus berusaha sekuat tenaga. Ketika aku mulai membuka mata ini. Kulihat begitu banyak cahaya di sekelilingku. Seperti pelangi. Aku menangis penuh rasa bahagia. Allah telah memberikan cahaya itu padaku walaupun hanya secercah cahaya. Allah mendengar doaku. Sedikit demi sedikit cahaya itu pun mulai pudar dan membentuk wajah Ibu, Eyang dan saudaraku yang lainnya. Aku mulai tersenyum pada mereka semua, untuk menandakan bahwa aku sudah tidak apa-apa. Wajah mereka semua musam, mungkin mereka menangisiku terus menerus yang sudah sekitar setengah tahun tak sadarkan diri. Kulihat wajah Ibu, hanya Ibu yang tersenyum saat itu. Ah aku rindu sosok Ibu yang seperti ini. Aku bersyukur Tuhan. Aku teringat akan mimpi saat aku tak sadarkan diri. Seorang wanita tegap penuh rasa ketegangan tepat berdiri di hadapanku saat itu, belum sempat ia memperkenalkan dirinya. Ia tiba-tiba mengajakku ke suatu tempat. Tempat itu hanya sebuah desa kecil yang sempit dan terlihat sesak. Begitu gelap, seperti tidak ada cahaya disana. Entah dimana aku sekarang. Bulu kudukku berdiri. Aku ketakutan. “Kau lihat? Betapa sesak dan gelapnya desa itu. Kini aku akan mengajakmu kesana.” aku takut. Aku tidak mau. Batinku terus menolak ajakan wanita itu. Rasa takutku belum sirna, tetapi wanita itu segera menggandeng tanganku menuju desa tersebut. Apa sebenarnya yang wanita ini inginkan? Kami memasuki salah satu rumah penduduk. Aku sudah membayangan kondisi penduduk yang tinggal di desa gelap gulita ini pasti mereka dikerumuni rasa ketakutan, rasa kelaparan. Ya sudahlah, sudah terbayangkan olehku pasti yang tinggal disini itu sangat sengsara. Ternyata dugaanku salah, benar-benar salah. Kakiku kaku seketika, mulutku membisu tak mampu berkata apa-apa. Di hadapanku saat ini aku melihat seorang ibu dengan kedua anaknya saling tersenyum satu sama lain, bercanda tawa bersama, lalu kemudian sang Ibu memeluk kedua anaknya dengan penuh kebahagian. Sebelum aku mulai bertanya. Wanita itu sudah lebih dulu berkata, “Kau lihat? Desa ini dipenuhi dengan kegelapan, kesengsaraan, serta ketidakcukupan akan harta benda. Tapi senyum itu tetap ada.” Aku mengangguk kebingungan. Penuh rasa tanya. Apa yang membuat mereka merasa cukup dengan keadaan yang sengsara seperti ini? Tidak ada tangisan. Tidak ada penderitaan. Tidak ada kesedihan sedikit pun pada paras wajah mereka. Aku tidak mengerti. “Apa maksud semua ini? Tempat apa ini sebenarnya?” akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada wanita misterius itu. Alhasil, dia sama sekali tidak mempedulikan pertanyaanku. Seketika wanita itu menunjuk pada satu arah. Menunjuk ke arah sang Ibu. Spontan aku segera memperhatikan tingkah laku ibu kedua anak tersebut. Ia mengeluarkan sejumlah uang dari saku pakaiannya. Aku menilik uang tersebut, ternyata hanya 5 ribu perak. “Nak, ini ibu mendapatkan rezeki dari berjualan tadi pagi. Alhamdulillah. Bagaimana kalau kita beli beras dan garam untuk makan malam nanti? Kalau keduanya dicampur maka makan malam hari ini akan sangat lezat lho!” ucap sang ibu sambil berseri-seri penuh bahagia. Lalu kedua anak tersebut mengangguk angguk kegirangan. Aku terdiam. Apa ini? Mengapa begitu berbeda denganku yang selalu mengeluh setiap saat. Makanan yang tersedia begitu banyak di meja makanku, tapi aku tidak pernah merasa puas. Aku menganggap hal itu wajar. Ya, karena memang manusia itu pada hakikatnya tidak pernah merasa puas pada apapun yang ia miliki. Padahal hidupku sudah lebih daripada cukup, tapi aku tidak pernah bersyukur sedikit pun. Kecewa. Sungguh satu kata itu yang membuatku terpuruk saat ini. Aku kecewa pada diriku sendiri. “Kau. Pikirkanlah apa yang belum kau lakukan. Lakukanlah yang terbaik jika ada saatnya nanti cahaya sekecil apapun menerangimu dalam kegelapan ini. Rasa syukur adalah hal yang paling mulia, mungkin sangat mudah mengatakan ‘aku bersyukur’ tetapi sulit untuk dilakukan dengan kesungguhan hati hanya padaNya.” wanita itu akhirnya pergi meninggalkanku sendirian. Aku menangis. Aku sungguh ketakutan. Aku dimana? Aku tidak bisa berjalan kemanapun. Aku tidak tahu arah dan tujuan. Dunia apa ini? Begitu berbeda dengan dunia yang aku jalani. Di duniaku begitu banyak cahaya, tetapi di dalamnya begitu gelap. Karena rasa syukur yang tiada pernah terucap. Akankah aku mendapatkan secercah cahaya itu? Aku ingin kembali. Bantu aku Tuhan. Bantu aku untuk menjalani hidup dengan penuh rasa syukur padaMu…

A Day in School

That day, In a school in my city, Makassar, I’d just finished my teaching in a class, went out, then the following teacher (my college friend) came in that class and continued teaching the students. This was what we had to do in two months to fulfill one of the requirements of our study in Campus, especially for those who are in Education Department – Doing A Teaching Practice. When I was sitting some meters away from the class, starring at the Teacher teaching inside, I opened my book. I read what haven’t been read yet, imagining… Suddenly a voice flew toward me, seemed to be whispering… “Big brother…” I turned my face, “Oh, hello… come..” I answered. A girl came to me then sat beside me. “Anyways, why don’t you come in to the class?” I was trying to make a talk. “I’m kinda tired, big brother.” She answered. “Oh, I see.” A minute passed by, Silent… (I was in silent, and she was too… I didn’t know what kind of idea I was going to talk about… sort of speechless). A minutes later, when I was trying to talk about something… “Big brother, how long have you been in college?” she asked. “Umm… about 3 years… 1 year left, I wish.” “Oh… I see. And, do you wanna be a teacher after fininshing your study?” “Mmm… I, I’m actually not giving much hope in my goal of being a teacher, I actually want to be more than that, you know… a lecture, could be, and find some additional jobs. Tacher is not a promising job, I mean in terms of earning money, salary. It’s still not equal of what the teachers do in class and their salary. Though they have that so-called “teacher certification”, I mean, to be a teacher, we still need more… We may need some additional jobs to raise fund…” That time, I spoke like a sophisticated one, but above all, the way I think, was like capitalistic one. “Big brother, do you think that by mastering English, being English teacher, or knowing English can provide us much space in looking for job?” she kept asking. “Of course, little sister… ‘cause you know, English is needed everywhere. Beside teaching English in school, you can teach English in a course, private learning, etc. You can also use your English in serving tourists or being interpreter… and many more”. “So, big brother, we will hardly find a job when we have no ability of English, right?” “Could be, could be not…” Then I went on… “Little sister, actually, above all… if you have an interest of something, a hobby, just keep on developing it, give much attention to it. It will be your power one day, your future, to live your life…” I went on… “But, you know, in Indonesia, it’s still hard to develop such a thing. We have less place or space to develop or to improve our creativity, we have less friends or people to share our creativity or to compete with. It’s really different with what happened in the western countries.” “That’s right big brother… By the way, I like drawing, big brother. I have many drawings of my own. I’m also good at dancing…” (of course you are, ‘cause I saw you dancing in the class just now… ) I talked in mind. She went on… “Yes, so poor in Indonesia. Tira aggres. (She changed the “pronoun” of herself using her name, a sort of Jakarta dialect) This girl was not originally from South Sulawesi. I could see it through the way she talked. And yepp, I knew it by our following talks ‘cause she told me about her experience, her story. She moved to Makassar because her father had a job here (kind of job mutation, perhaps). Again, she went on… “You know, big brother… In Indonesia, It’s so annoying, you know people here sometimes do not appreciate something we do. For example, you know sometimes when I’m dancing, people think that I’m just kind of crazy person, doing unimportant thing…” “Yah, that’s it. That’s why I wanna go abroad, study there, and enjoy life there.” “Hmm… by the way, don’t you wanna come in to your class. I think we’ve made a long talk here. I’m just afraid if… mmm… actually we shouldn’t do a talk like this ‘cause you’re supposed to be in class now but, the fact, you’re not in class now.” I went on, trying to give a little advice. “It’s OK, big brother, it’s OK… Tira’s just kinda tired studying in class.” “I see, but… mm… Oh ya, you said before that you like drawing. Anyways, you know, I also like drawing, painting, I used to have many drawings… and the way I draw is by imitating a picture… not so bad. I began to draw something when I was five.” “That must be nice… Hmm, big brother do you wanna go abroad? By the way, Kira has relatives in Singapore, and Kira knows that it’s good to study there. When Kira was in Elementary School, Kira almost went there with Kira’s family and lived there, but unfortunately the plan was cancelled.” She told her experience. “Nice…” “Little Sister…!” I suddenly disrupted the talk. “Let’s get in to the class… The class is almost over.” We both came in to the class… the class would be over in five minutes. She then sat at her seat, took something from her bag… “Big brother, this is my drawing, look..” She showed me a piece of paper. “Wow… beautiful…” I said, looking at the Manga (anime picture from Japan) at the paper. “Do you like drawing Manga?” I asked “Yes, I do, big brother.” “Just keep developing your drawing, little sister. If you have time, you can join groups of Manga lovers to share your drawings or something related to Manga. In facebook maybe you can find such those group, Manga Lovers Makassar maybe, etc. You can join them…” The bell then rang… class was over.

Who Comes and Never Goes

This is the same night I have ever passed before. I’m lonely, without a friend or a boyfriend. I just stay at home. Play with my notebook, hand phone or radio. Nothing else, and nothing special. Actually, I just need a friend. Not for doing many thing, but just for accompanying me. Just it. “Huh, it sounds grieving!” I thought. I start opening my notebook, turn it on. Waiting for a minute. Just a moment, my notebook has been active. I turn on the winamp, use the headset, and enjoy some songs of Western. I choose Broken, the song of Amy Lee feat Seeter. It reminds me of two special persons in my life. Hufff. Broken… I want to yell that I’m broken…!!! Then I check my e-mail. Nothing. Something that I’m waiting for there is no. I check my facebook. Still same. I feel disappointed. “Where’s my best friend?!!” I want to cry. Suddenly, my phone that I put beside my notebook is ringing. There is a SMS. I read. “Good evening… How’s everything Ay?” That’s the message. I frown. Then I reply. “Good evening… I’m fine. (^_^) I’m sorry; may I know who it is?” “It’s Reza. Reza Anggana Satria.” My heart suddenly gets pain after reading that message. I read again. I spell letter by letter. REZA. My heart increase pain. Then my phone is ringing again. “Ay, do you still remember me well? I just want to know your condition now.” There is an old pain that I feel again. I don’t want remember it again. But, I can’t flee. I must face the reality now. Then I reply his message. “yes, of course. I have never tried to forget all of people that have ever existed in my life. And my life now is very well.” “I’m glad to hear that. I hope we are still friend like long time ago.” “I hope so. Za, I want to know Kiran’s condition. She has never replied all of my messages nowadays. I’m worried about her condition. Please tell her that I’m still waiting for her messages.” I wait for Reza’s message. But he doesn’t reply my message again. Something happens. I don’t know. 9.00 p.m. I turn off my notebook. I prepare for sleeping. Then I fall down my body in bed. I remember of Reza. I remember of Kiran. They are two meaningful persons in my life. And I feel that I’m losing them now. I close my eyes and try to sleep. But their shadow is so strong in my marrow. I can’t stop not shedding tears. My heart is pain. Memories with them were so nice. Even those memories bring me meet them in the dream of my sleep. It’s felt so real. — “It will be a nice day.” I thought. As usual, I experience my activity, go to campus. I take on public transportation, my motorcycle is repaired. I sit in front of two girls of Senior High School’s student. They are friend’s couple. I look at them, and pay attention for them two. They chat each other and look cheerful. They really remind me of Kiran. I look at them same as with I look myself and Kiran long time ago, where we are always together. Those days have gone. And now, I’m yearning of her. I don’t know the reason why Kiran have never sent me messages again since one month ago. I always try to guess it, but I still get nothing. 15 minutes later. I take off from public transportation in front of my campus. I walk down the street towards my class slowly. Just three minutes, I arrive in my class. Still empty. I wait in front of class. And then, anymore I must look something that reminds me of someone, Reza. I see a couple is chatting and joking. Romantic but disgusted. That view really reminds me of memories with Reza. He is my friend at the same time my love. An amazing moment, even though just for a moment we’re together. My heart suddenly gets pain again. I’m yearning of Reza. I’m feeling lapse now. My phone is ringing. It realizes me from my fantasy. A SMS. From Vina. I read. “Aya, where are you now?” “In front of class. Where are you? Our class is still empty.” “I’m home. I’m sorry. I have not given you information yet. Our lecturer will not come in. So, we are free today.” I get surprise. Oh my God. I am sad. “Why am I here? It’s vain.” I’m grumbling. This is not a nice day I think. “Never mind. Thank you. I’ll go home now.” I replied sadly. Then I leave the class. I feel sad, I feel disappointed. I walk down towards gate of campus. But I don’t know where I want to go. I walk with dilly-dally step. It feels vacuous. “Ooh I need a friend. Kiran, Reza… I want you two. I wanna hold you two.” I talk to my self. “I want to cry… I feel alone. All by my self.” I want to know Kiran’s condition. I want to go to Jakarta to meet Kiran. But I’m afraid of meeting with Reza there. I think, I can’t meet them both in a same time. I’m confused. What should I do? I sit on the chair beside the campus gate. I bend my face. My phone rings. A number that gave me messages last night is calling. REZA. I’m shocked. I receive that calling. Just for a while, there isn’t voice. Silent. “Hallo…” I spook slowly. “Hallo… Aya…” That voice vibrates my heart directly. As a long time I didn’t hear this voice which make me comfortable. “Aya… Why do you bend your face? You look so gloomy.” “Why do you know Za??” I’m confused. “I know, because I am here.” Suddenly a voice is heard beside me, a bit whisper in my ear. I turn away. “Reza??!!” I’m shocked. I wake up directly. He smiles nicely. I’m still silent, without a word. All of my bodies become stiff. “Ay…?” He looks at me. “Emh.. Yes. Why are you here?” I try to speak, although it’s so difficult. “I want to take you to one place. Come on!” He pulls my hand and takes me into his motorcycle. I can’t refuse. I’m just quiet. I don’t know where he will take me to. 20 minutes later. We arrive in one place where we used to meet, a place which is full of memory. For a moment, we’re just quiet. “Why are you here Za? Does Kiran know that you’re here?” I tried to open conversation. But he’s just silent. “Why do you just keep silent? Is Kiran fine, Za?” My voice tone sounds hard. But Reza’s still silent. He closes his eyes. I look at him. Then I remember again our memory. “This face that always exists in my marrow. And the memories with you always exist in my heart. Forever.” I say with myself. And unconsciously, I remember again the moment when we’re together. Very beautiful. He is the one that can make me feel happy. I can’t find the precise words to show my feel with him. Too meaningful. I like this feeling very much, because it’s very pleased fall in love with my best friend. I look into his face in a long time. I float off in my memory with him, with all of my feeling for him. After a while, he opens his eyes. It realizes me from my fantasy. “Za, answer my question! Does something happen with Kiran? You didn’t tell Kiran what happen to us last time, did you? Answer me! Don’t make me worried!” I am quite angry. “Something happens with Kiran. And that is why I am here now.” He answered dismally. “Tell me, what happen? Please!” I hold his arm. “I will not tell you here. I want you know by yourself what happen to Kiran. I will take you to her.” “So, why do you take me to this place, if you won’t tell me the truth here.” “I just want you remember all of your feeling to me and our memory here. I don’t want you forget it, even just a little.” He glances me deeply. Then he takes me into his motorcycle. A half an hour we arrive in front of a house. I know that house very well, because that house is one place where Reza, Kiran and I used to spend our time together. That is Kiran’s house. I have never come to this house for long time. As I know that this house was empty since one year ago Karin continued her study in Jakarta. Reza invites me to come in to this house. I’m still confused, but my heart starts vibrating. Then we are towards a room. We enter the room. I see a woman sit on the wheel chair. I approach her. Then she turns away. “Kiran???” I’m very shocked. I hug her directly. I can’t stop shedding tears, neither can she. Feeling of longing mixed to sorrow. After a moment, we discharge our embrace. I look at her seriously. Reza and I help her to sit on the chair, and then we sit beside her. “What happen to you?” I asked slowly. She looks different now. Her body becomes thinner and weaker. Her face is pale. She doesn’t answer my question. She just smiles. I see that she is still beautiful. “Kiran has suffered liver cancer since several years ago. But she has never told it to anyone. She used to show that she is healthy. And I knew about her sickness one month ago, when her condition was very drop. And doctor told me that she has suffered liver cancer in stadium 4. I was very sad because she hid her pain by herself.” Reza explained sadly. I’m crying sob while Reza is explaining. I feel that it’s not real. “I’m sad. Why didn’t you tell me about your pain?” I hold Kiran’s arm strongly. Kiran smiles again. Then she speaks smoothly. “We are same Aya. Do you feel that you used to tell me anything in your life?” “What do you mean?” I asked astonished. “I know about you and Reza, Ay. Did you think that you can hide your feeling both from me, your close friend? No Ay.” “I have never intended to lie. I just felt that I betrayed our amity by having feeling with Reza. And I thought that you have same feeling with me to Reza. So, I’m willing if I give Reza to you. And I decided to continue my study here, in Tasik, in order to avoid you two. I have never intended hiding all this from you, because I have forgotten all now.” “hmm, one more time you are lie. I know that you two are still in love. Reza and I were just friend, same with you. I love Reza same as Reza love me, as a best friend, just it. But I let you do what you wanted to do last year. I received your heart kindness giving Reza to me, for I couldn’t be alone and I needed a friend to accompany me passing my days with my pain.” I gaze her deeply. She looks so weak, but she stick try to looks strong, even though she is getting pain. My heart gets pain for I see my best friend like this. I have never imagined it can happen to Kiran, a spoiled girl. Why does it not happen to me? I’m willing if I must change her painfulness. “Don’t gaze me like that Ay? I am not as painful as what you imagine. I am strong, even stronger than you which always look obstinate though brittle.” Kiran said softly. “Why did you not share your pain with me and Reza, Ran?” I asked disappointed. “I didn’t want to increase your burden, because you two were broken. I have been very thankful for you two, since you two never let me feel alone.” Kiran’s voice is slower than before. I can’t stop crying sob, and Reza can’t either. “Do you two still remember about the meaning of our friendship?” I asked to them. “Friendship is not about who knows earlier, not about who knows more and not about whom more often together. But friend is who comes and never goes.” Reza answered directly. “Ay, Za, you two are lucky, because you fall in love with your best friend.” “I’m lucky I’m in love with my best friend…” Reza and I are singing at the same time. Kiran smiles nicely. But my heart is sad. She looks such arrest her pain. “Ay, don’t do what you did last year! A friend is someone who always remembers his friend in his pray. And that is what always Reza do. He always involved us two in his days. Although Reza has never met you for one year, you are always in his heart. And I know that you are same with Reza, Ay.” “What did you say Kiran? Don’t talk anymore, you will be more painful.” I said. “Keep silent Ran!” Reza said. Kiran speaks little by little. “No, it’s time for me to go. I want to say what I want to say. I don’t intend to leave you two, but I can’t survive again. I’m happy, because I will go between you two.” “I’m sad, why must we meet in situation like this.” I cursed. “I hope you two will never be apart. I love you two.” Karin closes his eyes with saying God’s name. She breathes her last breath. She leans on Reza’s shoulder while she is holding my hand. Her face is so beaming. She has just gone peacefully. I know, this is the way of God. He collects us in condition like this. My friend has gone, but I still have Reza, my best friend and my love. I am very sad, and Reza is too. We have lost our best friend. But she will stay in our heart, now and forever after. Because friend is who comes and never goes.

When You Are Gone

After all this time together I never thought that you would leave me if you feel what I’m feeling right now? and do you know what I want? I need you by my side I miss our times together may you never feel it how sick and miserable I was when you left. I repeatedly read all messages from you to not feel the tears fall, I cried remembering all the memories of you, I feel these days like in the hell is so hard to forget all the memories, present you with a thousand promises and you go without giving one reason for sure you destroy all the promise, why did you do that? anything wrong me? You Hurted Me At Extreme Level I was Silent, You Broke My Heart I was Silent You Ignored Me At Worst I was silent You Busy With Others And Didn’t Even Care For Me I Was Silent Every time I Texts You But You Didn’t Replied I Was Silent But When You left me I Brusted into Tears … “Because You Hurts Me More Than I Deserve” I have given all to you, trust, love, and even I had to leave all my friends just to maintain our relationship to survive, but it’s all just in vain. you think of me as a game and when you get bored you go so wrote no matter what I’m feeling how sick, and miserable when we are together. I will never give up and tired of love, I’m still waiting for you to come back to me someday. I call your name in prayer and everywhere I go there’s only your name, you can never replaced in my life you are a very special part of my life even though at this time I do not know where you are. It hurts when someone i love so much doesn’t feel the same,It hurts even more when my heart’s breaking and i can’t cry, One thing that haunts me every day and every night is your name, I’d say I’m happy for you, but you’d know it’s all a lie. I told myself I would never come in between you, I know your happy without me, I can see it in your eyes, I can hear it in your voice, I wanted to be your Girl but I guess I was never your first choice. Looking at you, I wondered if I could’ve made you happy, Your smile, your laughter, your face and your voice is burned in my head, But then again I don’t think I could’ve ever made you happy, Sometimes thinking about you makes me want to die instead. I promised myself that I will continue loving you no matter what. I also promised myself that I will never jeopardize your happiness, I cannot lie but my love for you will never part, I promise you I will be by your side if you’re ever in pain or sadness. This is my promise to you as a friend and as someone who loves you. For all my friends : When Someone walks away from you - Let them Go (for sometime) Sometimes .. Hurt is needed to make us grow. Failure is needed to make us know Loss is needed to make us gain. In life, we all have: an UNSPEAKABLE secret an IRREVERSIBLE regret an UNREACHABLE dream and an UNFORGETTABLE love Remember!! Some lessons are BEST learned only through PAIN!!

Rasa Yang Tak Kan Mungkin Pudar

Rasa Yang Tak Kan Mungkin Pudar oleh: Alandia Seorang perempuan berumur 17 tahun telah menyukai seorang laki-laki yang sangat kebetulan adalah temannya dikala ia masih kecil. Perempuan ini bernama Via, parasnya sangat cantik sekali dengan rambut terurai tebal lembut sekali. Sedangkan laki-laki bernama Adi, penampilannya rapi meskipun tampangnya biasa-biasa aja. Dahulu mereka sering bertengkar, entah rambutnya via yang terkulai bebas tersebut dijambak oleh adi. Yaa..mereka berdua tidak bisa disatukan lagi bahkan guru pendampingnya pun menyerah menghadapi tingkah adi dan via yang semakin membabi buta. Emang sih masa-masa itu adalah masa anak-anak yang ingin bermain dan bertengkar. Cerpen Cinta Remaja Sering dengan pergantian waktu, hari, bahkan bulan mereka berdua tumbuh remaja. Namun ketika duduk dibangku SMA mereka terpisahkan. Adi pergi jauh sekolah ke luar negeri, dia mengikuti ayahnya yang bekerja disana. Perpisahan mereka tidak dilakukan, hal ini dikarenakan kepergian adi terlalu cepat sehingga tidak bisa berpamitan dengan via. 3 tahun sudah berlalu, via selalu menunggu kedatangan sahabat terbaiknya “adi” sepanjang masa. Sungguh keterlaluan adi tidak memberikan sedikit kabar tentang dirinya kepada via. Bahkan seolah-olah adi sudah melupakan kedekatannya dengan via sewaktu kecil. Suatu ketika via duduk di tepi sungai dengan merenung berharap setelah dia menoleh ke belakang ada Adi sedang berdiri di belakangnya. “via...via..” panggilan itu sangat keras sekali perasaan via tidak karuan senangnya tetapi setelah menoleh kebelakang ternyat sofi teman sebangkunya. “kamu ngapain disini vi?” tanya sofi. Via hanya diam terpaku begitu saja. Meskipun via tidak menjawabnya sofi pun tahu kalu dia sedang menunggu cinta monyetnya. Hehehe.. sofi menyebut kisah dari via ini dengan cinta monyet. Dengan penuh rasa sayang saofi mendekati teman sebangkunya itu, “sudahlah vi, adi itu temanmu di waktu kecil jadi wajarlah kalau dia disana pasti sudah punya teman-teman baru lagi”. Dengan raut wajah yang sedih, via membenarkan perkataan sofi. Walaupun sangat sulit untuk melupakan adi dia akan berusaha demi hidupnya yang harus berjalan terus menerus. Semuanya telah dilakukan sangat baik oleh via, dia benar-benar sudah melupakan sahabatnya. Disaat dia sudah melupakannya adi sahabat karibnya pulang ke Indonesia, memang benar semua yang di katakan sofi dia lupa akan dirinya. Via mengira kepulangan sahabatnya itu bersama dengan perempuan asing dari luar negeri, ternyata dugaanku semua itu tidak benar. Adi pergi bersama sofi teman sebangku via. Tega sungguh sangat tega, meskipun sudah diperlakukan demikian via masih saja berpikiran positif dia masih bersikap baik sama adi dan sofi. Yang membuat via sagat sedih dan menyesal adalah pernah mengan adi dan sofi yang sangat begitu baik kepadanya, tidak itu saja adi selama ini tidak menyadari keberadaanku dan perubahan sikapku ke dia. Sudahlah, mungkin ini semua memang takdir dan sudah jalan dari yang Kuasa. Via akan selalu mengenang kebersamaan sewaktu kecil meskipun mereka berdua sering saja bertengkar tapi pertengkaran itu malah yang membuat via mulai jatuh cinta pada pandangan pertama.

ANTARA CINTA dan SAHABAT

ANTARA CINTA dan SAHABAT Oleh : Alandia Hidup akan indah bila kita masih memiliki seseorang yang kita sayangi, seperti via, via masih memiliki orang tua yang sayang dengannya dan saudara laki-lakinya yang sangat menggemaskan yang masih kelas 4 SD. Serta tak luput mempunyai seorang sahabat yang baik yang selalu bersama ketika dia duka, lara pun senang. Via mempunyai sahabat dia bernama Mia dan Rahma. Kemana-mana kami selalu bersama seperti layaknya besi dan magnet yang sulit dipisahkan. Mereka pertama kenal ketika pertama MOS dan memulai sekolah di SMA, Ketika itu Rahma duduk sendirian dan tak sengaja Via menghampirinya dan berkenalan. Setelah mereka berbincang-bincang cukup lama datanglah seorang anak perempuan cantik putih bertahi lalat di bawah bibir yang tipis. Tahi lalatnya itu membuat wajahnya menjadi manis dan disegani oleh kaum Adam. Cerpen Antara Cinta dan Sahabat “Hai…. Rahma dah lama nunggunya yah???” kata perempuan itu “Ea… lama banget, kamu dari mana saja???? kata Rahma “Maaf yach aku berangkatnya siang, soalnya bangunnya kesiangan… hehehe” jawab Perempuan yang berbicara dengan Rahma sambil tersenyum. “Oa,untungnya ada Via yang menemani aku di sini, Mi kenalin ini Via teman sekelas kita juga lho. Oya vi kenalin ini teman satu bangku aku namanya Mia” kata Rahma sambil memperkenalkan temannya. “Kenalin aku Via, aku duduknya di samping tembok dekat pintu sama Ovie” kata Via memperkenalkan dirinya kepada Mia. “Aku Mia, low boleh tau lo tinggalnya dimana”?? Tanya Mia kepada Via. “Aku aslinya Banjarharjo, tapi di sini aku ngekost” jawab Via. “Kapan-kapan kita main ke kostnya Via, Gimana,?? Rahma lo juga ikut yach”?? Mia melontarkan pertanyaan kepada Rahma. “Itu ide yang bagus kita selalu kumpul-kumpul bareng di kosannya Via, Gimana kalau kita buat genk saja?” usul Rahma. “Aku setuju dengan pendapatmu. Nanti kita buat kaos yang sama, tapi dipikir-pikir nama genk nya apa yach”?? Mia menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal karena begitu bingungnya. “Tapi maaf teman-teman bukannya gw menolak, tapi aku bener-bener gak setuju dengan pendapat kalian, aku ingin bersahabat dengan kalian. Tapi aku gak suka buat genk-genk seperti itu, takutnya kalau kita buat genk, banyak teman-teman yang benci dan iri.” jelas Via. “Yah Vi, tapi……….” Sebelum Mia melanjutkan pembicaraannya bel sekolah pun berbunyi tanda peserta MOS kumpul di halaman sekolah untuk diberikan arahan dan himbauan dari kepala sekolah. Sungguh ribet dan susah kembali menjadi peserta MOS harus menggunakan kostum planet yang sungguh menyebalkan itu seperti pake kaos kaki yang berbeda,tasnya menggunakan kantong kresek,rambutnya di ikat lebih dari 10 buah,sungguh membosankan dan menyebalkan ketika dimoment-moment MOS seperti ini. Setelah kumpul di lapangan Rahma dan Mia senyum-senyum sendiri, dan aku bingung kenapa mereka senyum-senyum tanpa sebab. Adakah sumbernya kenapa mereka senyum-senyum sendiri. Setelah aku perhatikan ternyata mereka tersenyum ketika melihat kakak Osis. Dan kemudian aku bertanya kepada Rahma,”Rah, kamu dan Mia senyum kenapa??” Tanya Via dengan penasaran. “Asal kamu tau aja ya Vi, aku dan Mia itu ngefans banget sama anak kelas X-2 itu, terus gw jatuh cinta sama cowok itu katanya sih namanya Dana”. jawab Rahma. “Yang mana?” Tanyaku lagi. “Itu yang paling cakep sendiri, Oa aku juga ngefens banget ama kakak OSIS jangan bilang sama Mia yach kalo aku ngasih tau ke kamu, aku itu ngefans banget sama Ka’ Zaenal sedangkan Mia ngefens sama ka’ Adit”. jelas Rahma. “okey, tenang saja Rahma gw pasti gw bisa jaga rahasia ini kok, dijamin gak bakal bocor dech…….” kataku. “Aku percaya kok sama kamu….. halah kaya ember saja bocor… . hehehehe”. Rahma sambil ketawa Ketika asyik berbicara ternyata banyak pengarahan yang diberikan oleh kepala sekolah, sungguh menyesal sekali ku ini tidak mendengarkannya. Padahal banyak manfaatnya bagi kita khususnya bagi pelajar. Setelah beberapa lama kemudian peserta MOS di bubarkan. Via sedang berfikir sepertinya enak sekali rasanya ketika menjadi anak SMA. Sama seperti yang Via rasakan saat ini Via ingin cepat-cepat menggunakan baju putih abu-abu dan agar cepat diresmikan menjadi murid SMA, rasanya lama sekali menunggunya waktu seperti itu. Apalagi, rumahnya sangat jauh dari sekolah sungguh enaknya jauh dari orang tua dan bebas untuk pergi-pergi kemanapun yang kita inginkan bersama teman-teman barunya. Tapi Via harus bisa mengendalikan diri dari pergaulan di zaman edan seperti ini, kalau kita mengikutinya maka kita akan masuk ke dalam jurang neraka yang isinya orang-orang berdosa. Kicauan burung menari-nari di angkasa, Sungguh indah bila ketika memandangnya. Embun pagi menyejukan hati Semerbak wangi mawar membuat segar perasaan kita. Indahya alam ciptaan tuhan yang maha esa, Tak ada yang bisa menandinginya,Karena tuhan adalah sang kholik pencipta alam semesta. Ricuhan murid-murid SMA bagaikan burung-burung yang sedang menyanyi-nyanyi. Murid-murid mulai berdatangan menuju sekolah untuk menuntut ilmu, walaupun ada yang niat sekolah hanya ingin mendapatkan uang jajan dan ingin memiliki banyak teman. Murid-murid berdatangan ada yang naik motor, sepeda, naik bus mini, angkot, diantar orang tuanya menggunakan mobil, adapun jalan kaki. Bel sekolah pun berbunyi sebagai tanda waktu pelajaran dimulai. Murid-murid dengan tenang belajar di sekolah. Hening sepi keadaan di sekolah bagaikan tak berhunikan makluk, Seperti di hutan sepi sunyi. Bel istirahat pun berbunyi, murid-murid bagaikan pasukan burung yang keluar dari sangkarnya menuju kantin gaul bu ijah. Perut mereka terjadi perang dunia ketiga mereka berebut makanan dan cepat-cepat mendahulukan mengambil makanan. Aku tak nafsu untuk pergi ke kantin dan aku beranikan diri pergi ke perpustakaan.Setelah lamanya aku diperpustakaan datanglah seorang cowok ganteng yang diidam-idamakan oleh Rahma sahabatku sendiri. “Hai…….vi kok sendirian saja disini.” kata cowok itu yang bernama Dana. “Yah…. teman-teman aku lagi ke kantin, padahal aku diajak kekantin sama mereka, tapi aku pengennya pergi ke perpustakaan……. hehehe” kataku pada Dana. “Oa…… kamu les di Prima Eta yach??” Tanya Dana. “Eah…..kok kamu tau sich…” jawabku. “Kan aku juga les disitu,terus gw juga sering merhatikan kamu lho!!” kata Dana. “Memang kamu kelas X apa?, kok gw gak pernah lihat kamu?” “Ruang X-B. oa,kamu ruang X-A ya?” “yapz……….” Aku tak ingin dekat-dekat dengan Dana, Tapi aku juga punya perasaan sama Dana aku bingung kalau aku berdekatan sama Dana nanti Rahma cemburu. Kemudian ku pamit sama Dana. “Dan aku mau ke kelas dulu” kataku pada Dana. “Owg…..eah Vi silahkan” Kemudian aku menuju ke kelas, sebelum masuk ke kelas, di jalan aku ketemu Rahma. Aku menyapa Rahma dengan senyuman. Tapi apa yang Rahma kasih padaku, Rahma bersikap sinis. Aku bingung kenapa Rahma bersikap seperti ini kepadaku, Kemudian aku mencari Mia. Aku ingin menanyakan kepada Mia. Tentang sikap Rahma kepadaku. Setelah kutemukan Mia, ku langsung menanyakan kepada Mia. “Mi,aku boleh nanya sesuatu kepadamu gak?” tak sengaja air mataku membanjiri wajahku yang lembut ini. “Nanya tentang apa?” “Tadi aku ketemu Rahma, aku nyapa dia, Tapi dia cuek, malah dia bersikap sinis kepadaku, Apa salahku Mi”. “Apa benar tadi kamu janjian sama Dana di perpustakaan, kok kamu bisa ngehianatin sahabat sendiri sich”. “Mi, tadi itu, aku gak sengaja ketemu Dana di perpustakaan, sumpah aku sebelumnya gak janjian, tolong bantuin aku, untuk jelasin ke Rahma Mi.”Aku memohon ke Mia agar dia bisa bantuin aku untuk jelasin ke Rahma. “yach udah….gimana kalau pulang sekolah gw temuin kalian berdua” “Terserah kamu Mi, yang penting Rahma tidak salah paham sama gw” Kemudian setelah pulang gw nungguin Mia dan Rahma di kantin gaul,setelah beberapa lama aku nungguin munculah mereka dari balik kelas.setelah aku melihat Rahma.Aku langsung peluk Rahma dan aku teteskan air mataku.kemudian aku memohon-mohon agar Rahma mempercayai penjelasin yang diberikan oleh aku padanya. “Rah, plis dengar penjelasan aku, aku gak ada hubungan apa-apa sama Dana, mana mungkin aku ngehianatin sahabat sendiri.” “terus kenapa tadi kalian berdua ketemuan di perpustakaan.” Tanya Rahma. “Aku gak sengaja ketemu di perpustakaan Rah, kalau kamu masih gak percaya, gimana kalau kamu nanya langsung sama Dananya?” “owg………..yach dech aku sekarang percaya kok sama kamu, masa aku percaya sama orang lain daripada sahabat sendiri, maafin aku juga yach Vi,,”. “Memangnya tadi siapa yang bilang sama kamu”. “Sudah, gak usah dibahas, gak penting”. Aku bingung kenapa Rahma langsung maafin aku, padahal aku baru sebentar jelasin kapada Rahma. leganya perasaanku ini. “Makasih Rah”. Kemudian kami pun saling berpelukan rasanya senang banget ketika kami baikan kembali. Setelah pulang sekolah, Aku seperti biasa membuka kembali buku pelajaran. Setelah ku membuka buku, tak sengaja ku temukan secarik kertas yang beramplop. Ku buka perlahan-lahan, tapi kenapa jantungku ikut berdetak lebih kencang. Kubaca perlahan-lahan. Dear Via…. Izinkan aku untuk berkata jujur padamu, Sebelumnya ku minta maaf kalau aku sudah lancang mengirim surat ini. Aku sadar, aku bukan apa-apanya kamu. Aku juga tak pantas memilikimu. Tapi semakin ku pendam perasaan itu, semakin sesak rasanya dadaku ini kalau tak segera ditumpahkan. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Tapi tiap kali aku ingin melepaskan diri darimu, Tapi tiap kali itu aku ingin semakin kuat untuk memelukmu. Dan aku merasa heran mengapa perasaan ini hanya terjadi padamu, mengapa tak tumbuh pada gasdis-gadis yang lain, Bagi anak-anak lain mungkin menilainya, Mereka lebih cantik darimu? Tetapi ini perasaanku, Aku justru suka padamu tak hanya karena kecantikanmu, Tapi juga karena innerbeauty mu sungguh menarik bagiku. Aku tak ragu lagi memilih gadis semacam kamu. Kamu ini memang tak ada duanya di dunia ini. Sudah beberapa lama ku pendam perasaan ini tapi baru kali ini ku beranikan diri utuk menyatakan kalau aku “CINTA dan SAYANG”sama kamu. Maafkan aku kalau aku tak gentel seperti anak laki-laki lain yang mengutarakan langsung di depan wajah dan bertemu langsung empat mata. Tapi kalau kau mau agar aku langsung mengutarakannya aku akan mencoba, besok kita ketemu pulang sekolah di kelas X-9. Orang yang mencintaimu Adytia Pradana Putra Aku bingung,Aku tak tau harus berbuat apa. Aku bingung memilih salah satu ini CINTA atau SAHABAT. Kata-kata itu selalu menggoyang-goyang pikiranku. Aku punya persaan sama Dana dan aku juga gak mau menyakiti perasaan sahabatku. Kenapa bisa terjadi pada aku, kenapa tidak Mia??? Bukanya aku iri pada Mia, tapi karena perasaan bingung ini jadinya aku tak sadar menyalahkan Mia.... ya tuhan tolonglah diriku ini, aku harus berbuat apa?. Kemudian aku berfikir, aku sudah janji hidup dan matiku akan ku pertaruhkan demi sahabatku yang ku sayang. Aku relakan Dana untuk sahabatku Rahma. Aku tak ingn melihat sahabatku sedih. Aku sudah punya keputusan, aku gak akan terima Dana jadi pacarku, Tapi aku akan bersujud di depan Dana dan bermohon-mohon agar Dana mau jadi pacarnya Rahma. * * * * * * sekian * * * * * * * * cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya....cinta yang sebenarnya adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih tetap menunggunya dengan setia.... cinta yang sebenarnya adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata "aku turut berbahagia untukmu wahai SAHABATKU"

Kamis, 03 Oktober 2013

maafkan aku harus pergi

Maaf Ku Harus Pergi dari Cintamu

Cerpen Sedih
Indahnya cinta kurasa , tetapi tak seindah yang kukira . malam semakin malam, tanpa ada dirimu disisi. ku mohon pada dirimu jangan dustai hati dan cintaku. Kasihku hanyalah dirimu , kasihku aku cinta padamu .Lembut nya embun pagi menyapa hati dan cintaku , seolah tak berhenti berharap akan cintamu. Manisnya cintamu dan indah senyum bibirmu menambah rasa cintaku kepada dirimu . dunia maya adalah awal cerita kita yang tak pernah kulupa sepanjang hidupku . perkenalan ku dengan dirinya membawa arti kebahagian dalam hidupku. Perbedaan pendapat membawa kita pada jurang kehancuran.

Maaf ini sudah menjadi keputusan ku dan harus pergi untuk kesekian kalinya , dan aku pun tak bisa berbuat apa – apa hanya kata maaf ku bisa ku ucapkan padamu.

Jujur ,kau telah melukai hati perasaanku , sehingga hidup ku kehilangan arah tujuan dan membuat suram hidupku.

En, kenapa kau membohongi ku, apa kau tidak iba akan diriku. Maafin aku? Janji- janjimu semua palsu .
Aku sedih melihat kamu tak setia pada ku .

Walau rasa sayangku begitu besar kepada mu. tapi itu percuma ,kamu seakan tak menghiraukan aku lagi.
Malam Tahun baru 2011 adalah malam begita saklar .makna pergantian tahun . karna,ini juga termasuk sangat bermakna dalam hubungan kita bina selama ini .semua serba baru .

Kamu dimana ? loh ko , kenapa kamu pulang ke Depok sih . oya udah , kalau kamu mau malam tahun baruan bersama keponakanmu.

Bergegas aku mencoba mengecek ketempat kost an mu di bilangan Rawamangun .apa benar dia pulang ke depok atau membohongiku.

Aku gak yakin Eni pulang ke depok , rasa bimbang dan gak yakin tercurah dalam perasaan ku ini.loh ko, ternyata dia membohongi ku , ku melihat sendalnya berada ditempat kerjanya .tanpa berpikir panjang aku ketuk pintu kantornya , dia tampak kaget memandang diriku .hubungan yang terjalin selama 4 tahun dirusak oleh dia sendiri. membina hubungan begitu lama, akhirnya dia berkhianat tertangkap basah dengan rekan kerjanya sedang berdua an dalam kantor.

Keluar kamu, dia tampak bingung memandang ku dan penuh rasa bersalah karna telah berbohong.

“Ayo, kita jalan ?
“Bergegas keluar dan meninggalkan kantor ?
“Pucat terlihat dalam raut wajahnya?

Sadar dia telah berbohong , pembicaraan selalu dialihkan .kamu kenapa bohong? Jujur ini terasa mimpi , dibohongi pasangan adalah sesuatu paling najis . Masih terasa luka oleh perilaku dia semalam , ternyata aku belum percaya 100%.

Walau pun diriku sedang libur , aku coba menyatroni tempat kost an untuk kali ke dua.rasa kepercayaan ku mulai luntur , tak kala dia tertangkap basah lagi . rekan kerjanya yang juga kenal denganku , Nampak datang ke tempat kost nya . aku gak tinggal diam, 500 menit ku mengawasi .akhirnya ku datangi kost an nya terjadi keributan , sayang tangan ku dipegang nya sehingga tak terjadi perkelahian antara hasim dan aku . merasa tertangkap basah untuk kali ke dua , dia nampak pucat terlihat diwajahnya.

Jujur dengan kejadian itu , aku benar gak bisa memaafkan dia ? rasa kepercayaan ku hilang seketika dan larut dalam kekecewaan .

Meski pun sudah hilang rasa cintaku . tetapi aku memandang dia , mungkin itu semua sesuatu ke khilaf an dan bisa diperbaiki kembali. Aku pun mencoba mengunjungi dia ke kost an nya dengan maksud main dan sekalian meminta maaf atas sikap ku yang arogan .sayang , maksud baik ku ga direspon dengan baik ,aku ditinggal sendiri di teras kost an nya.

Ku telpon ponselnya selalu di matikan ? Ku sms ga ada balasan?

Hingga akhirnya , mungkin aku harus pergi dari hati dan cintanya selamanya dan menatap esok hari yang lebih cerah. Pergi dengan perasaan galau terasa dalam hati ku . tak ada keindahan yang tercipta dunia seakan gelap menjadi gurita .

Mendengar ku tidak ada di Jakarta . dia pun mencoba menghubungi diriku
“hallo, kamu dimana ?
Maaf , aku sudah berada di luar kota sekarang?
“eh , kenapa kamu pergi ? segera balik , saya tunggu kamu di kost an sekarang.
“maaf ga bisa , aku sudah di Jawa ?
“oya , udah kalau itu mau kamu sih?

Kegagalan dalam bercinta bukan berarti kiamat , akan tetapi kegagalan adalah sebuah pengalaman dan harus dicarikan solusinya. Hari – hari yang indah kini telah hilang. Ku coba menjalani kehidupanku dengan rasa tegar walau terkadang rasa kesepian hinggap dan selalu menghantui pikiranku.

Gambaran cerita ini mungkin sedikit dari sekian banyak cerita hidup yangbisa di jadikan renungan.sehingga kita dapat belajar tentang arti sebuah cinta .karna, setiap manusia tidak ingin gagal dalam menjalin hubungan asmara.semoga kita lebih mawas diri dan menjaga hubungan jalinan kasih dengan pasangan kita.
Sekarang antara aku dan dia tidak ada kontek ?mungkin dia sekarang sudah menjalin cinta dengan yang lain dan menghasilkan Buah cinta yang menhasilkan kasih sayang

Follow Us

About Us

Advertisment

Like Us

© Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan .welcome in my blog:) ALANDIA All rights reserved | Theme Designed by allaandia Bloggera Templates